Oleh: Endih Herawandih
Nampaknya harus diusulkan kepada Kementerian Pendidikan Nasional untuk menghilangkan beberapa mata ajaran yang tidak diperlukan dan tidak penting, untuk kemudian diganti oleh mata ajaran kewirausahaan. Usulan langsung kepada Menteri adalah sesuatu hal yang tidak mungkin dilakukan oleh orang seperti saya karena saya bukanlah apa-apa. Dengan menulis disini mungkin banyak orang yang baca, sehingga pada suatu saat akan sampai ke hadapan his majesty Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia.
Pendahuluan
Paper ini merupakan karya saya pribadi sebagai refleksi dari pengalaman saya jungkir balik dan malang melintang di dunia usaha mikro dan kecil. karya ini dipersembahkan kepada siapapun yang memerlukan informasi mengenai bagaimana memulai bisnis. Saya merasa terpanggil untuk menuliskan serangkaian tulisan karena selama ini banyak pertanyaan yang ditujukan pada saya. Umumnya para calon pengusaha mikro tidak memperoleh informasi yang jelas mengenai bagaimana memulai bisnis. Atau pengusaha mikro yang ingin mengembangkan bisnisnya menjadi berskala lebih besar. Kalaupun ada, harus dibeli dengan harga mahal melalui pelatihan bisnis.
Masalah timbul karena banyak (tetapi tidak semua) pelatih bisnis bukanlah praktisi atau pelaku bisnis yang sesungguhnya. Mereka biasanya memperoleh pengetahuan tentang bisnis dari membaca buku, hasil survey/penelitian, atau membaca kisah sukses orang lain. Ironis bukan? Bayangkan kalau orang yang belum tahu seluk beluk bisnis tiba-tiba harus mengajar bisnis??? Apa yang akan terjadi? Silakan anda jawab sendiri.
Rangkaian tulisan akan diterbitkan di site ini secara bertahap sesuai ketersediaan waktu saya. Saya menyadari sepenuhnya bahwa bahasa yang saya gunakan sangat jelek, tidak terstruktur dan tidak konsisten dalam hal teknik penulisannya. Disisi lain, tulisan ini bukanlah merupakan tulisan ilmiah. Jadi mohon untuk tidak menilai tulisan ini secara akademik.
Semangat dan sikap kewirausahaan
Membangun dan mengembangkan usaha mikro bagi sebagian orang yang memiliki jiwa kewirausahaan adalah sebuah pekerjaan biasa. Akan tetapi bagi orang yang tidak memiliki jiwa kewirausahaan merupakan pekerjaan sulit dan memerlukan proses pembelajaran yang panjang. Oleh karena itu, proses pembelajaran kewirausahaan harus menjadi landasan yang dikembangkan melalui kurikulum pendidikan agar setiap orang di Indonesia memiliki landasan berfikir dan bertindak sebagai seorang wirausaha.
Orang yang memiliki jiwa wirausaha tidak wajib untuk menjadi seorang pengusaha, sebab yang paling penting adalah bertindak dan bersikap sebagai entrepreneur. Spirit entrepreneur diperlukan bukan hanya jika seseorang menjadi pengusaha. Untuk menjadi pemimpin di pemerintahan-pun diperlukan jiwa wirausaha agar mampu mengelola sistem pemerintahan secara efektif dan efisien. Dengan demikian warga memperoleh kepuasan atas pelayanan dan pembangunan yang dilakukan pemerintah. Oleh karena itu jika kita melihat atau menghadapi pemerintahan yang tidak berjalan dengan baik, kemungkinan besar disebabkan oleh ketidakmampuan aparat untuk membaca permasalahan yang terjadi sehingga tidak mampu mencari dan membuat solusi atas permasalahan.
Selain aparat pemerintah, jiwa kewirausahaan diperlukan oleh pekerja sosial dan pengabdi masyarakat. Pentingnya jiwa kewirausahaan bagi pekerja sosial adalah agar pekerjaan pelayanan sosial memberikan kepuasan pada masyarakat yang dilayani.
Jadi pada prinsipnya, jiwa kewirausahaan itu penting bagi semua orang yang pekerjaannya menghadapi dan berkomunikasi dengan orang. Aspek ini sering dilupakan orang karena mereka selalu menganggap bahwa spirit kewirausahaan hanya diperlukan oleh pebisnis. Paradigma ini harus mulai dirubah secara mendasar melalui pengembangan sistem pendidikan yang berorientasi pada pengembangan jiwa kewirausahaan pada setiap anak didik. Paradigma tersebut harus ditanamkan sejak anak didik berusia dini dan tidak terbatas pada sekolah kejuruan saja.
Kelemahan yang terjadi saat ini adalah, setiap murid dari mulai sekolah dasar sampai dengan universitas dijejali mata ajaran yang menggiring murid untuk menjadi pegawai dan mengerjakan tugas-tugas rutin yang tidak ditujukan untuk menghadapi tantangan. Selain itu para siswa tidak dididik untuk mengembangkan tantangan menjadi peluang, dan menjadikan peluang sebagai sesuatu yang dapat dikembangkan menjadi kenyataan.
Saya mengajak teman-teman yang berminat untuk jadi pengusaha mikro dan kecil untuk memulainya dari sekarang.... Semua konsultasi dan sharing tidak dipungut biaya alias gratis....... Silakan poskan komentar.
BalasHapusTerima Kasih
endih Herawandih
pak Endih saya kira, selewat, bagus nech saya akan baca dulu ya ...............bu Eni/istri saya sekarang sudah maju selangkah: sudah ada pabrik supermini di rumah dan 'lapak'nya nambah lagi di Matahari, kecil sekali/Usaha Amat Mikro dengan Modal Dengkul (UAMMD)tidak masuk kriteria UMKM! tapi gak apa-apa segala sesuatu kan kecil dulu baru besar gitu kan mari kita bergerak/berwirausaha demi kemajuan sektor informal (baca: sektor yang tidak nyusahin negara!) amien
BalasHapusDimulai dari yang mikro akan menjadi besar.... Semoga... Tetap semangat...
Hapusterima kasih bagus pak Endih merupakan dorongan bagi kami, saya dan nyonya, salam
BalasHapusTerima kasih Pak Monty, semoga pabriknya semakin besar dan usahanya semakin maju.
Hapus